Lazada Tiga Tahun Logistik Jadi Prioritas

Lazada merayakan ulang tahunnya yang ketiga akhir Maret lalu. Di umur baru ini, mereka punya ambisi besar untuk membangun sendiri layanan logistik mereka sendiri di lebih banyak kota di Indonesia.E kbom melanjutkan bahwa mereka juga selalu berusaha menghadirkan platform on- line yang terbaik untuk peng- gunanya, seringan dan semudah mungkin diakses. “Pengguna smartphone di Indonesia baru 25% dari total pengguna ponsel. Di luar sana masih banyak yang masih menggunakan Nokia Symbian masih menjadi hal besar disini. Meski mungkin 25% lainnya nanti akan beralih ke Lollipop (dengan hadirnya Android One-red),” sela Ekbom. Untuk itu, Lazada berusaha membuat situs yang seringan mungkin sehingga bisa diakses oleh semua orang. Bahkan di wilayah yang punya koneksi internet buruk. Karena menurut Rene semua orang mestinya punya hak yang sama, “Apa yang bisa dibeli orang Jakarta mestinya juga bisa dibeli oleh orang Indonesia di wilayah lain nya,” tandasnya. Sedikit berbeda dengan media sosial lain yang langsung masuk ke timeline. Sebangsa memiliki launcher sendiri untuk menempatkan semua feature di atas. Selain keempat feature tadi, launcher ini juga menyediakan feature notifikasi dan perpesanan yang diletakkan tersendiri.

Baca Juga : https://teknorus.com/gambar-keren/

Di launcher ini pula Anda bisa menempatkan orang, grup, atau topik favorit yang bisa langsung diakses. Logisitik Tiga komponen penting dalam e-commerce adalah ketersediaan pemasok, platform internet, dan kapasitas gudang. Ketiganya saling bekerjasama. Apa yang dilihat pengguna di perangkatnya hanyalah bagian kecil dari semua yang tejadi. “Ketika pelanggan mengklik checkout, inilah (proses) yang membedakan e-commerce satu dengan yang lain.” “Kami akan membuat standar baru dalam dunia logistik di Indonesia,” terang Michael Ekbom, CEO Lazada. Sebuah standar baru karena menurutnya standar layanan distribusi barang di Indonesia masih belum memuaskan. “Kita tidak berbicara logistik di area Jabodetabek,” tuturnya kepada CHIP. “Tapi ini diluar area itu, diluar Jawa. Dimana layanan logistiknya tidak dapat dipercaya, kita tak tahu barang sudah dimana dan kapan akan sampai,” tuturnya lagi. “Untuk itu, nanti kita akan menambah pasukan berbaju dan motor dengan boks oranye dibelakangnya,” ujar Ekbom sembari menyebutkan ciri-ciri layanan logistik yang dibentuknya sendiri yang berciri khas seragam dan boks motor berwarna oranye itu. “Penjualan kami 40 persen ada di Jakarta, sisanya dari luar Jakarta,” lanjut pria berkebangsaan Swedia itu lagi. Untuk itu tak heran jika di tahun ini Lazada berambisi untuk menambah pasukan oranyenya itu di beberapa kota di Sumatra bahkan ia berharap bisa menembus Papua. Keinginan kuat untuk membentuk armada logistik sendiri disebutkan Ekbom karena menurutnya infrastruktur negara belum siap.

“Kami siap membangun infrastruktur terbaik untuk logistik (kami),” jelasnya. “Logistik perlu perhatian karena itulah urat nadi Lazada.” Saking pentingnya logistik, tak heran jika 5000 pekerja logistik Lazada saat ini meraup 80% total pekerja perusahaan online yang baru membuka gudang baru seluas 20.000 meter persegi itu. Karenanya, Logistik menjadi perhatian penting sebab menurut Ekbom, ada tiga hal penting yang harus diperhatikan kala berbisnis online.

“Produk yang tepat, platform online yang tepat, dan waktu yang tepat,” tambahnya. Untuk menghadirkan produk-produk yang tepat, Ekbom menyebutkan bahwa ia dan tim Lazada Indonesia selalu berusaha memenuhi kebutuhan penggunanya. “Email saja kami jika ada barang yang Anda cari tapi tak ada di Lazada, kami akan langsung mencarikannya untuk Anda,” sambungnya. Dengan makin populernya internet bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, Eknom yakin nanti akan ada perubahan besar terkait cara distribusi produk. “Pilih produk terbaik, taruh di platform online terbaik, tidak perlu taruh toko di seluruh Indonesia,” jelasnya lagi. Bahkan perubahan itu menurutnya sudah mulai terasa di Jakarta. “Coba Anda ke Mangga Dua di hari Sabtu, kini sudah tersedia tempat parkir karena para pedagang sudah berpindah ke online. Pedangan kecil, menengah, hingga besar semua punya toko online.” Potensi Bukan Tantangan Ketika didesak mengenai kontribusi Indonesia dibanding negara ASEAN lain dimana Lazada menancapkan kukunya, Ekbom enggan berkomentar. Namun, menurutnya daya beli masyarakat Indonesia masih kalah ketimbang Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Tingkat daya beli serta kerumitan berjualan online di Indonesia disebutkan Ekbom bisa disetarakan dengan Filipina. “Sama-sama berbentuk kepulauan dan masih kurang berkembang,” tuturnya. Tapi di Lazada, menurutnya mereka tak melihat itu sebagai tantangan melainkan sebagai potensi. Jadi menurutnya Indonesia adalah tempat yang menakjubkan, “paling beragam, kepulauan dan paling tersebar,” paparnya. Berbicara mengenai pelanggan di Indonesia, menurutnya tak beda antara pelanggan Jakarta dan daerah lain. Sebab, pelanggan Jakarta jadi representasi pelanggan lain di seluruh Indonesia. “Sebab mereka membaca iklan yang sama, mengikuti tren yang sama, mencari dan membeli hal yang sama,” imbuh Ekbom.

Potensi lain yang jadi harapan Lazada adalah potensi pertumbuhan pemilik akses internet pada 2017 yang akan bertumbuh jadi 128 juta orang. Meski angkanya potensial, namun saat ini total e-commerce Indonesia masih tak sampai 2% dari total belanja tradisional. Maka menurut Ekbom, menarik orang berbelanja online, perlu ditumbuhkan rasa aman dan percaya dalam berbelanja online. Untuk menumbuhkan rasa ini bagi pengguna situs belanja online di Indonesia, maka ini adalah tanggung jawab semua pelaku e-commerce. Berhenti Mengeluh Ketika ditanya soal jajaran kepala dan manajemen Lazada yang banyak diduduki tenaga kerja asing, Ekbom berkilah bahwa Lazada adalah perusahaan profesional yang menghargai keragaman kebangsaan. Meski akhirnya ia mengaku bahwa Indonesia kekurangan tenaga berpengalaman untuk menduduki jabatan eksekutif dan manajemen menengah.

Menurut Ekbom, untuk menangani hal ini maka tenaga kerja muda Indonesia yang ada di luar negeri mesti segera kembali ke Indonesia dan mulai membangun negaranya sendiri. “Entrepreneur Indonesia (juga) perlu lebih percaya diri. Mereka perlu lebih percaya diri ketika berbicara ke investor tentang apa yang sedang dilakukan. Jangan cuma disimpan sendiri. Anda perlu membicarakan apa yang Anda buat ke orang lain kalau ingin membuatnya besar. Punya ambisi dan jangan takut memperlihatkan apa yang Anda lakukan,” Ekbom menyarankan. “Atau kesempatan itu akan jatuh ke tangan orang lain.” Selain itu, untuk membangun perusahaan internet yang berhasil menurut Ekbom mesti ada kolaborasi antara mereka yang berbasis teknis dan bisnis. “Anak muda Indonesia mesti mulai berbuat dan tidak hanya mengeluh sulit dilakukan. Anda tidak akan kemana-mana jika hanya mengeluh. Negara ini punya banyak kesempatan dari negara lain,” tegas pria 28 tahun itu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *