Distribusi Bantuan Difokuskan ke Lokasi Pengungsian Terpencil

JAKARTA — Bantuan logistik untuk korban gempa 7 skala Richter di Lombok belum tersalurkan merata. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Sutopo Purwo Nurgoho, menuturkan sedikitnya ada tiga lokasi yang terkendala pendistribusian bantuan. “Terutama di Kecamatan Gangga, Kayangan, dan Pemenang yang berada di bukit-bukit dan desa terpencil,” kata dia, kemarin. Sutopo mengatakan gempa yang terjadi pada Ahad lalu mengakibatkan 321 orang meninggal. Mereka tersebar, antara lain, di Kabupaten Lombok Utara 273 orang, Lombok Barat 26 orang, Lombok Timur 11 orang, Kota Mataram 7 orang, Lombok Tengah 2 orang, dan Kota Denpasar 2 orang. Sebanyak 270.168 jiwa mengungsi ke ribuan titik pengungsian.Menurut dia, jumlah pengungsi diperkirakan bertambah mengingat pendataan terus dilakukan. Gempa juga mengakibatkan 67.875 unit rumah rusak. Hasil analisis citra satelit menyebutkan kerusakan terbanyak terjadi di Kabupaten Lombok Utara. Hampir 75 persen permukiman di wilayah itu hancur dan rusak.

Sebab, lokasi tersebut merupakan titik terdekat dengan pusat gempa dan menerima guncangan sebesarVII Modified Mercalli Intensity (MMI). Dalam skala itu, bangunan dengan konstruksi yang kurang memenuhi standar tahan gempa tak akan mampu menahan guncangan keras. Sutopo tak memungkiri banyak pengungsi memilih lokasi pengungsian di perbukitan. Alasannya, mereka menghindari kabar tsunami yang beredar beberapa saat setelah gempa. Jauhnya lokasi pengungsian menyebabkan distribusi bantuan logistik terhambat. Namun dia mengatakan akan memperketat pengawalan distribusi bantuan bersama aparat Tentara Nasional Indonesia dan kepolisian. Sejak Kamis lalu, distribusi bantuan dilakukan menggunakan tiga helikopter BNPB dan Badan SAR Nasional. “Bantuan darat juga terus disalurkan,” kata dia. Sutopo memperkirakan kerugian dan kerusakan akibat gempa pada Ahad lalu dan sebelumnya yang berkekuatan 6,4 skala Richter di Nusa Tenggara Barat dan Bali mencapai lebih dari Rp 2 triliun. Kerugian dan kerusakan meliputi sektor permukiman, infrastruktur, ekonomi produktif, hingga sosialbudaya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan hingga saat ini pemerintah sudah mencairkan dana Rp 37-38 miliar sesuai dengan permintaan BNPB. Dana itu sedianya digunakan sebagai dana tanggap darurat. Mayoritas dari jumlah itu bakal dialokasikan untuk kebutuhan makanan, minuman, dan obat-obatan. “Itu kan baru kondisi darurat awal, jadi tinggal tunggu BNPB saja,” kata dia. Sekretaris Utama BNPB Dody Ruswandi mengatakan lembaganya juga memiliki dana siap pakai senilai Rp 700 miliar yang bisa digunakan ketika terjadi bencana. Uang tersebut saat ini sudah terpakai setengahnya. Meski begitu, ia menjelaskan, masih ada dana cadangan yang tersedia di Kementerian Keuangan sebesar Rp 4 triliun. “Uang tersebut setiap saat bisa dicairkan,” kata dia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *